Yan Zavin Aundjand

Selamat Datang di Prasmanan Sastra Yan Zavin Aundjand
Peringatan: Dilarang Pipis di Sembarang Tempat

Sabtu, 18 Februari 2012

Menjadi Kabuleh Kiai di Langgar

Naskah Mentah Novelku Bagian Ketiga (judul besar dirahasiakan).. hehehehe... monggo-monggo
oret-oretan: jam 02.35 s/d 03.25 wib sambil Facebookan
 
 
3

 
Orang tuaku sudah tak lagi merantau. Mereka sudah bisa hidup di kampung dengan sederhana. Ayah mencoba melanjutkan pekerjaannya menjadi pedagang kayu-kayu bangunan di rumah sebagai pekerjaan sampingan, sesekali dia diundang untuk jadi tukang bangunan di desa-desa tetangga. Selain itu, pekerjaan tetap ayahku bertani; menanam jagung, jabi rawit, kedeli, kacang, kacang hijau, tembakau, sesuai dengan aturan musim menanam. Kami makan dari hasil pertanian kami. Di sini aku mulai diajari ke sawah, ke talon untuk bantu-bantu orang tuaku bertani.
Kata ayahku, aku sudah besar, jadi aku harus bisa bekerja. Pekerjaanku selain bantu-bantu bertani, aku mesti setiap hari ngangkut air dengan Pelteng dari sumur Bates; air buat mandi, buat nyuci, buat masak, buat minum, dan lain sebagainya. Setelah itu aku mencari rumput, dedaunan, atau apa saja yang bisa dimakan buat makan sapi. Orang tuaku punya dua peliharaan sapi. Biasanya, ibuku setelah memasak buat sarapan pagi, dia juga ikut mencarikan makan sapi. Orang menyebutnya ngare’, ngare’ itu mencarikan dedaunan, rumput, atau apa saja yang bisa dimakan buat sapi, dengan membawa celurit atau arit kecil dan gerinjing. Gerinjing itu adalah wadah buat rumput, dedaunan, dll., yang terbuat dari bambu dengan cara diiris tipis yang kemudian dibentuk bulat, renggang, dan berlubang.
Aku menjadi anak yang nurut apa yang disuruhkan oleh orang tua. Aku tak pernah melawan. Namun, seringkali setelah pulang dari Langgar, yang sering ditanyakan oleh orang tua adalah, “ghenthong sudah kamu isi, Nak…?” atau “kamu sudah cari makan sapi, Nak…?” ghenthong itu tempat penampungan air yang diletakkan di pakeban, yang terbuat dari tanah, berbentuk bulat seperi kendi, tapi bentuknya besar dan lubangnya juga besar. Pakeban itu adalah tempat untuk mandi, anggaplah kamar mandi. Pakeban posisinya harus diletakkan di samping kanan rumah, berbentuk segi empat. Kamar mandi yang sederhana, hanya membutuhkan empat tiang bambu kecil, atau kayu seukuran panjang badan sampai dada yang ditancapkan ke tanah dengan ukuran panjang dan lebar empat persegi, tanpa atap, kemudian dipasang aling-aling dari kain atau dari tikar atau apa saja agar ketika mandi aurat tertutupi. Ada pula yang tidak dibentuk seperti itu, hanya cukup ada ghenthong, tapi ditutupi dengan pohon-pohon pisang yang ditanam di pinggir ghenthong.
Di masa ini, aku tidak pernah membayangkan punya cita-cita yang bagaimana. Aku masih kecil. Usiaku masih sembulan tahun. Aku masih suka main. Orang tuaku tidak sepenuhnya menjadikan aku orang yang berpendidikan dan berpengalaman. Aku tahu bahwa saat itu, orang tuaku tidak mementingkan aku berangkat ke sekolah. Aku terus disuruh bekerja membantu pekerjaannya, apa saja yang mereka kerjakan, aku harus selalu ada membantunya. Aku sadar betul, orang tuaku tidak pernah mengingatkan aku pergi ke sekolah, baik ke SD atau pun ke Madrasah. Kecuali kadang, serigkali orang tuaku mengingatkan aku dan menenyakan aku berangkat ngaji ke Langgar, selebihnya tidak.
Aku juga baru tahu bahwa ayahku sangat ganas dan keras. Setiap kali aku tidak berangkat ngaji ke Langgar, aku pasti diseret dan dipukul dengan irisan potongan bambu. Sedang aku sudah mulai malas-malasan pergi ke Langgar atau pun ke sekolah. Dalam pikiranku cuma ada main dan main dengan teman-temanku. Aku tak pernah merasa takut dan cedera meski ayahku keras memukuliku atau kiai di Langgar karna aku jarang berangkat ngaji. Tapi aku tidak pernah absen dalam membantu orang tua bekerja, aku selalu ada.
“Nak, nanti kita nanam jagung,” kata ibu mengajakku.
“Iya, bu’…” balasku. Aku baru saja selesai mencari makan sapi, sebentar lagi berangkat ngambil air dari sumur. Jarak dari rumahku ke sumur yang aku tuju, bisa dibilang lumayan jauh, sekitar setengah kilo meter perjalanan. Dan setiap hari, aku mesti bolek balik sampai tiga kali buat ngisi air ghenthong mandi dan ghenthong dapur. Kadang aku ngangkut air dulu baru cari makan sapi. Tergantung mana yang lebih didahulukan.
“Makan dulu, Nak,” ucapnya.
“Iya.”
“Nanti biar tidak usah dikirim nasi ke talon. Biar ayahmu saja yang makan di sana. Kamu makan dulu, nanti makanan ayahmu kamu bawa, ya…?”
“Iya, bu’..”
Aku pergi ke dapur. Sepertinya aku tak bisa ngangkut air hari ini. Aku mesti cepat-cepat makan dan mengantarkan makanan buat ayah yang sejak tadi sudah ada di talon sendirian.
“Nak, kamu harus bisa anggheleh,” kata ayah setelah aku sampai di talon. Kulihat ayah belum selesai ananggheleh talon, masih tinggal separuh.
“Kamu coba dulu. Ayah mau makan…”
“Iya, Yah…” dengan hati-hati aku berdiri mendekati nanggheleh atau alat bajak, kupegangi ujungnya dengan tangan kanan, dan kupegangi tali sapi dengan tangan kiri. Meski hati ragu dan takut, aku mesti mencobanya dan harus bisa. Nenekku dari ibu membantunya dari belakangku memasang atau menaburkan jagung ke tanah yang sudah dibajak.
Nanggheleh adalah salah satu cara untuk mengolah tanah cara petani, yang dilakukan menggunakan tenaga sapi. Alat nanggheleh itu terdiri dari nanggheleh yang terbuat dari kayu dibentuk palang (siku), palang pertama berukuran kecil, yang kedua memanjang ke depan dengan sedikit melengkung. Di ujung palang kedua itu terdapat pangonong; pangonong itu kebanyakan terbuat dari bambu, berbentuk pendek seukuran dua sapi berdiri berjajar rapat, yang nantinya diletakkan di leher sapi.
Alur penanaman dilakukan secara memutar dengan mengatur jarak antar baris bajakan 40 cm dan diikuti peletakan benih Jagung dengan jarak dalam baris benih 40 cm.  Setelah benih disebar atau diletakkan, tanah kemudian ditutup menggunakan alat bajak lagi (nanggheleh). Caranya dengan melewati tanah tengah antar barisan yang tidak disebari benih Jagung. Sampai nanti waktunya pendangiran dilakukan juga memakai alat bajak, yaitu dengan cara melewati tengah tanaman secara bergantian.
Ah, hasil bajakanku tidak lurus, tidak seperti hasil bajakan ayahku. Aku berhenti saja nunggu ayah selesai makan, dari pada kocar kacir tidak karuan, mending ayah saja yang mengerjakan. Aku mesti melihat dulu bagaimana cara ayah menyetir alat bajak yang diseret oleh kedua sapi itu.
“Lo.. kok sudah berhenti, cong?” kata ayah sudah selesai makan. rokok di tangannya baru saja dia sulut.
“Tidak tahu..” lalu aku tersenyum sendirian. Ayah membiarkan aku meletakkan alat bajak itu, kemudian aku duduk di dekat ayah.
“Sudah, tidak apa-apa,” kata nenek. Lekas ibuku datang.
“Lo… masih tinggal banyak, ya…?”
“Iya. Itu kacong, suruh melanjutkan malah duduk duduk…” sambut ayah.
Ibu diam tidak membalasnya.
Ibu mendekati nenek, mengambil bakul berisi jagung di tangan nenek.
“Biar aku saja. Ibu pulang saja,” nenek mengangguk.
“Kacong pulang saja, ngangkut air sana… pulang sama nenek,” lanjutnya.
“Iya,” jawabku.
Nenek berjalan dengan santai menuju pulang di belakangku.
Sesampainya di rumah, aku dengan segera mengambil pekolan atau alat pikul dan pelteng berangkat ke sumur. Untuk mengisi pelteng dengan air itu, aku harus mengambilnya dengan timba beberapa kali tarikan. Terakhir aku mandi di pinggir sumur sebelum berhenti mengangkut air. air ghentheng harus penuh sebelum ayah dan ibuku pulang kerja, sampai di rumah mereka tinggal mandi, mengambil wudhu’, lalu sholat.
Setelah aku selesai bantu-bantu keluarga, aku pergi bermain dengan teman-teman di tetangga, dan ke mana pun aku mau. Aku jarang berada di rumah, kadang pulang hanya untuk makan, pulang hanya untuk ngangkut air dan cari makan sapi, tapi kadang makan di tempat rumah teman di tetangga. Orang tuaku jarang menyuruhku pulang ke rumah, kecuali jika di kandang sapi dan pakeban tidak ada apa-apa, alias aku tidak cari makan sapi dan mengisi air ghenthong, dikarenakan aku sering telat bangun pagi di rumah tetangga.
Siang itu, aku ngompet di kandang sapi Mantoan Saripah, kandangnya jauh dari rumahnya. Saat itu aku malas sekali pergi ngaji ke Langgar. Ngumpet itu sudah menjadi kebiasaanku dengan teman-teman untuk tidak ngaji, kadang aku dengan teman-teman ngumpet di kandang, di dalam selokan kering, di rumah orang, di mushalla orang, dan kadang dimana saja yang penting aman dari pantauan orang tua, kiai, dan orang-orang yang mungkin akan memberi tahu keadaan kami ke orang tua. Aku tidak pernah punya pikiran untuk berbuat hal lain yang lebih nyaman dari pada harus ngumpet, padahal ngumpet itu capek dan pengap di tempat yang sempit dan gelap. Kadang aku sekongkol dengan orang-orang di tetangga tempat aku ngumpet, mereka sepakat tidak memberitahuku ada di rumahnya. Malam aku biasa ngumpet di rumah tetangga, siang aku biasa di kandang sapi orang.
Aku sangat takut bila aku sampai ketahuan ayahku tidak berangkat ngaji, aku pasti diseret dan dipukul. Ah, di kandang sapi itu, Mantoan Saripah datang menjenguk sapinya. Menjadi kebiasaan setiap siang selepas dhuhur, Mantoan Saripah membawakan air buat sapinya di kandang. Entahlah, aku yang sadari tadi ngumpet di belakang kandang dekat pantat sapi, tiba-tiba sapi dengan sendirinya gelisah. Bokong sapi terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Mantoan Saripah yang saat itu sedang menyguhkan sapinya merasa kaget dan heran dengan tingkah sapinya yang tidak seperti biasanya. Dengan rasa khawatir, Mantoan Saripah memeriksa sapinya yang gelisah itu, cuma itu sapi yang gelisah, sementara yang lain tidak. Sapi di kandang itu tiga ekor sapi, semuanya beser-besar. Aku tak tahu bahwa dia sedang memriksa sapinya yang terus bergerak itu.
“Ah, kamu kenapa di sini, cong?” tanyanya tiba-tiba. Aku kaget.
“Tidak..” jawabku sembarangan.
“Kamu tidak ngaji, ya. Nakal. Saya akan kasih tahu ke ayah kamu, nak. Jadi kamu yang membuat sapi saya ketakutan. Untung kamu tidak ditendang sapi. Sana pergi. Sana pergi ngaji, cong. Ketahuan ayah kamu, mati kamu, cong. Anak sekarang memang begini, disuruh ngaji malah ngumpet,” kata Mantoan Saripah terus memarahiku. Aku takut. Aku pergi.
Pergi yang entah aku ke mana, mau mencari aman seperti sudah tidak aman. Sebentar lagi ayahku pasti mencariku. Aku berjalan pelan melewati jalan menuju ke rumah temanku, rumah Ji Matthohir, di sana biasanya tempat anak-anak ngumpet dan tidak ngaji. Aku sering ngumpet di sini kalau malam.
Tak lama kemudian, menjelang beberapa saat, ada suara menyebut namaku;
“Neng, ada Sufyan ke sini?” suara ayahku. Dia menanyakan aku ke Ji Matthohir yang sedang duduk di teras rumahnya, yang punya rumah.
“Tidak tahu. Coba lihat sendiri di belakang,” balasnya.
“Masak dia sekarang sudah jarang ngaji. Mau jadi apa anak itu…” gerutunya sambil melangkahkan kakinya ke belakang rumah.
Kulihat ayahku membawa sapu lidi di tangan kanannya sambil berkata;
“Cong, pulang, cong. Pulang, nak. Kamu tidak ngaji. Kamu sudah licik sama orang tua, cong…”
Mendengar suaranya, aku langsung lari, kabur dari tempat persembunyian itu. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk lari kencang, tapi tidak bisa, kaki ayahku lebih panjang dan lebih kencang mengejarku. Aku kenak juga. Tanganku dipegang dan diseret menuju pulang. di jalan itu, aku tak henti-hentinya dipukul dengan sapu lidi yang sejak tadi dia pegang buatku. Aku menangis dan terus menangis. Sampai rumah aku diikat di tiang dapur di depan rumah dengan tali raffia, sambil dipukuli tubuhku yang sudah tak kuat menahan sakit. Aku seperti menjerit-jerit kesakitan. Ibuku menangis melihatku yang sudah babak belur, tapi seperti tak bisa dia mencegah ayahku berhenti.
“Kamu ini mau jadi apa? Orang tua sudah bela kamu agar kamu bisa ngaji, tapi kamu malah ngumpet, jarang ngaji ke Langgar. Saya tahu, cong, kamu jarang ngaji. Berangkat ngaji dari rumah, tapi kamu tidak sampai ke Langgar. Mau jadi apa besok kalau kamu seperti ini perbuatannya,” kata ayah tak selesai memukulku.
“Sudah. Kasihan Sufyan, sudah cukup…” cegah ibu. Ibu menangis tergopoh-gopoh. Ayah berhenti memukul, lalu dia pergi sambil ngomel.
“Orang tua itu memasukkan anaknya biar anaknya tahu ngaji. Tidak seperti orang tuanya ini yang tidak tahu apa-apa. Mau jadi apa dia besok. Ngumpet lagi, nak, ya.. ngumpet, cong. Ngumpet, nak…! Tapi jangan sapai ketahuan saya lagi.”
Ibu melepas ikat tali di tubuhku. Dia membawaku ke pakeban membersihkan tubuhku yang berlumuran debu gara-gara diseret oleh ayah. Aku diam sambil menangis, ibu juga menangis sambil memandikanku.
“Kamu jangan begini lagi, nak, ya… besok kamu ngaji yang benar. Tidak usah mau ngumpet, cong…! Kamu kan tahu, ayahmu itu keras kalau mukul. Besok ngaji lagi yang benar, ya…?”
Aku tak berkata apa-apa.
Ibu benar-benar pahlawanku.
Ibu merawatku, dia mengoleskan minyak tanah ke tubuhku yang cedera dengan sapu dan di bagian yang luka. Sementara adikku, Maimunah, dia hanya diam menatapku menangis. Entah, dia tahu apa tidak aku sehabis dipukul ayah. Tapi dia menatapku dengan tatapan kasihan dan sayang, sama seperti tatapan ibuku. Aku mulai berbaring di ranjang menenangkan tubuhku yang lesu. Aku tenangkan hati. Kupejamkan mata hingga aku lelap.

# # #

Hari ini aku mulai berangkat ngaji ke Langgar dengan rajin, aku takut ayahku memukulku lebih parah lagi.
“Kamu kenapa tidak ngaji dari kemarin?” tanya kiai Ma’ruf menydangku malam itu. Seperti biasa, kiai menyidang santri-santri yang tidak berangkat ngaji, tangan kanannya memegang potongan irisan bambu. Tidak hanya aku, banyak juga teman-temanku yang disidang.
“Saya sakit, Kiai…!”
“Sakit? Alasan kamu. Benar kamu sakit? Tidak bohong…?”
“Tidak, Kiai. Saya benar-benar sakit.”
“Ya sudah. Sana ngaji.”
Aku lolos dari pecutan kiai Ma’ruf. Tinggal teman-temanku yang lain.
“Hasan? Kamu kenapa jarang ngaji?” bental kiai. Hasan kaget.
“Ikut ibu…”
“Kamu tidak bilang ke ibu kamu, kalau kamu ngaji?”
“Sudah…”
“Kenapa kamu tidak berangkat ngaji?”
“Saya dipaksa ibu…”
“Alasan kamu.. ke sini…? Tangannya di balik…?”
Hasan ikut saja apa yang diperintahkan oleh kiai Ma’ruf.
“Cetas… cetas… cetas…” tangan kanan Hasan dipukul sebanyak tiga kali. “Cetas… cetas… cetas…” tangan kirinya, juga tiga kali.
“Berdiri…?” perintahnya lagi.
“Piyer… jangan diulangi lagi, piyer… jangan ulangi, ngaji yang rajin, piyer… paham?” betis Hasan.
Enggi… enggi… enggi…” katanya. Hasan mengendus kesakitan.
Begitu juga dengan yang lain secara bergantian.
Batinku tiba-tiba meronta, kulihat kehidupan ini seperti tidak adil. Hati kecilku mulai bertanya tentang Tuhan, “benarkah Tuhan memaksa manusia untuk mengetahui ayat-ayat-Nya? Benarkah orang mesti dipukul gara-gara jarang mempelajari ayat-ayat-Nya? Apakah ini ajaran Tuhan?” Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. “Aku masih kecil, Tuhan. Aku tidak tahu apa-apa. Oh, Tuhan, apakah Engkau melahirkanku hanya untuk seperti ini? Dipaksa untuk mempelajari ayat-ayat-Mu?” terus tanyaku dalam hati.
Inginnya memberontak. Aku tak ingin hidup seperti ini, setiap hari aku dilanda ketakutan dan sedih. Aku mesti merelakan masa-masa bahagiaku dengan teman bermain hanya demi harus peri ke Langgar, ke Sekolah, dan ke Madrasah. Aku tak punya kebasan memilih hidupku sendiri. Masa kecilku aku ingin disayang, dimanja. Aku ingin semua orang tahu, dan memberiku jalan untuk memilih hidupku sendiri.
“Anak lahir sampai umur tujuh tahun itu adalah tanggung jawab seorang ibu, ibulah yang mendidiknya. Dari usia tujuh tahun sampai sembilan tahun, itu adalah ayah yang mendidiknya. Ayah punya tanggungan untuk menyuruh anaknya belajar agama, dan harus didik sholat. Bila seorang anak dalam usia sembulan tahun masih tidak sholat, maka pukullah anak itu, tapi jangan sampai cedera tulangnya. Namun, bila orang tua tidak mampu untuk mendidiknya sendiri, maka pasrahkanlah anaknya kepada orang yang dianggap bisa dan mampu untuk mendidiknya.” Kata-kata ini yang terus aku ingat dari seorang guru yang pernah aku dengar di Madrasah.
Aku pasrah saja kemudian, bila itu memang benar perintah dalam agama. Meski hati ini terus memberontak dan gelisah, tapi aku tidak punya kemampuan untuk melawan atau pun pergi jauh sekalian. Aku sebenarnya ingin hidup di suatu tempat yang akan membuatku damai. Tapi tak apalah, akan aku ikuti semua cerita hidupku seperti ini, aku ingin tahu, sampai di mana dan sampai kapan aku harus seperti ini.

# # #

Di Langgar, aku mulai jadi santri yang dicocoki oleh kiai. Artinya, aku seringkali disuruh bantu-bantu di dalem; menyapu, masak kopi dan teh ketika ada tamu, cari pakan kambing peliharaan kiai, dan yang lainnya bila diperlukan. Sampai suatu ketika aku dinyatakan sebagai kabuleh dalem di langgar. Aku mulai jarang pulang dari langgar. Berangkat sekolah dank e madrasah dari langgar. Tidur di langgar. Makan pun juga di dalem. Aku mulai jarang pulang ke rumah, dua hari atau tiga hari aku pulang.
Orang tua lebih senang kitika anaknya kerasan di Langgar meski jarang pulang sekali pun. Sebab, Langgar sudah dianggap sebagai tempat yang suci, berpahala, dan tidak mungkin akan membuat seorang anak berbuat macam-macam. Dia akan baik-baik saja selama berada di langgar. Senangnya.
Aku sendiri mulai nyaman dengan suasana di langgar, selain ngaji dan mengabdikan diri kepada kiai dan nyai, malam aku bisa main-mainan dengan teman-teman santri yang bermalam di langgar. Apalagi ketika terang bulan, kami tidak pernah lepas bermain di halaman Langgar, bermain Selodor.
Kami senang sekali bermain Selodor. Kami biasa main Selodor ketika sudah selesai ngaji kitab ke kiai Ma’ruf, baru setelah itu kami mulai main, ada pula sebagian santri tidak ikut main karena piket ngisi air dari sumur ke kamar mandi kiai sampai penuh. Setiap malam semua santri yang sudah dianggap besar dan kuat, diberi tugas piket ngisi air kamar mandi kiai. Setiap kelompok piket ada empat yang bertugas.
Kami mulai berbaris di halaman setelah ditentukan kelompok pemain Selodor masing-masing. Permainan ini cuma ada dua kelompok. Satu kelompok menjaga dan mempertahankan wilayahnya untuk tidak dimasuki lawan. Kelompok kedua, beraksi masuk ke wilayah lawan.
Aku sendiri sebagai kelompok pertama. Kami berjaga, mengisi baris-baris melintang dan tanda di lapangan atau halaman. Barisan seperti berlapis-lapis. Kami mengisi strategi lapisan terakhir dan paling awal untuk orang-orang yang paling panjang tangannya, karena dua lapisan ini yang kami anggap paling penting. Di lapisan pertama ini yang menentukan lawat masuk ke wilayah kami, sedang lapisan terakhir menentukan lawan dapat keluar dari wilayah kami. Di permainan ini, kami tidak pernah membatasai jumlah orang selama halaman di depan langgar itu cukup, dan jumlah orang tiap kelompok harus sama. Kadang kami bermain tiga orang sampai sepuluh orang per kelompok.
Aku sendiri menjadi aktor utama dalam permainan ini, kami menyebutnya sebagai Selodor. Selodor yang bertugas membelah wilayah atau lapangan permainan menjadi dua. Sebagai Selodor, aku mendapatkan posisi terpenting dalam permainan ini, aku bisa bergerak dari ujunng ke ujung, mengunci lawan dalam satu kotak dalam baris. Mengunci lawan dalam kotak memang tidak mudah, harus membutuhkan kelihaian, kelincahan, dan gerak cepat. Aku tidak hanya bertugas sebagai pengunci, tapi juga dapat menyerang pemain yang sedang bengong yang sekiranya bisa aku tangkap. Posisi terpenting yang perlu aku jaga itu adalah baris kedua dari depan dan belakang.
Permainan Selodor ini bagiku, gampang-gampang sulit, asyik dan menyenangkan. Kami bermain sesuai aturan, yaitu; apabila salah satu dari pemain lawan, kelompok penyerang, sukses melewati rintangan, serta bisa kembali lolos pulang (goal), maka dianggap kelompok penyerang dinyatakan menang dan permainan diulang kembali tanpa ada perubahan posisi. Namun, kelompok penjaga dapat mengalahkan kelompok penyerang apabila salah satu di antara mereka tersentuh oleh kelompok penjaga dan kelompok penyerang sampai keluar dari baris kanan, baris kiri dan kembali atau mundur. Maka, kelompok penyerang dinyatakan kalah, dan permainan berganti posisi. Artinya, kelompok penjaga jadi kelompok penyerang, dan kelompok penyerang jadi kelompok penjaga.
“Hu...” Budin dari kelompok penyerang mengecoh Tingwar yang berjaga di baris pertama.
“Ah,” kata Tingwar, Budin lepas dari penjagaannya. Segera dia dapat serangan susulan, juga lepas.
Aku dengan segera menguncinya dua penyerang yang masuk itu di kotak kedua. Di kotak kanan baris kedua Budin, di kotak kiri baris ketiga Sabrawi. Kedua orang ini terus mengocehku dan penjaga garis, namun aku tetap siap siaga.
“Huh, guh, huh…” ocehnya. Tapi aku tidak getir sama sekali. Aku atur strategi senyaman mungkin.
“Haaa…” teriakku. Sabrawi tersentuh tanganku saat dia mulai mau masuk ke dalam baris keempat.
“Hureee…” kata kelompokku merasa senang dan puas. Aku juga ikut bergembira karena aku bisa menangkap Sabrawi.
Pergantian posisi;
Aku jadi penyerang pertama dengan Atmari. Aku samping kanan, Atmari samping kiri.
“Hep… hep… hep…” Atmari mengecohnya.
Penjaga baris petama Hosen. Atmari terus mengecohnya. Aku diam saja mengambil kesempatan ketika Hosen mendekati Atmari.
“Hiap….” Aku masuk di baris kedua. Segera Atmari melompat saat Hosen mengejarku.
“Hiya…” saat Atmari melompat, segera Mat Suhar menghadangnya, dan aku tinggal melangkah menuju baris ketiga. Segera di antara kelompokku yang lain masuk dari belakangku. Mudah sekali. Aku sudah sampai di tahap pertama dengan Atmari, lepas di garis kelima, garis paling akhir.
“Sekarang aku sebelah kiri, kamu sebelah kanan,” usulku ke Atmari. Dia mengangguk tanpa basa-basi.
Di baris kelima itu aku tinggal melangkah saja, karena penjaga garis masih sibuk menghalang penyerang susulan. Baru di baris kedua aku dan Atmari dihadang. Kami tetap di posisi yang direncanakan. Ah, dari belakangku sudah ada yang menyusul kembali. Tambah mudah mudah untuk lepas dari baris ke baris. Semakin banyak yang mengecoh, maka semakin bingung si penjaga baris.
“Selodor…” teriak Atmari, dia finis duluan dariku. Kami menang lagi. Dan permainan diulang tanpa mengubah posisi.
Kami terus bermain, kedua kalinya kelompokku kalah, dan begitu juga seterusnya. Masuk ke wilayah lawan memang kadang mudah-mudah gampang. Tapi juga membutuhkan strategi dan kecepatan lari. Kami senang dengan apa yang kami lakukan dan kami capai masing-masing, yang kalah dan yang menang akan sama-sama puas dan bersedia menerima kekalahan. Keringat di tubuh kami bercucuran, mandi keringat.
Malam sudah larut. Bulan meninggi di atas halaman tempat kami bermain. Suasana ramai dengan teriakan kami bermain.
“Ha..yo, ha..yo, ha..yo..” kata yang lain.
“Huh huh, huh huh, huh huh, huh huh, huh huh,” teriaknya bersamaan kelompok penjaga.
“Hiyaaaat…” ada yang berteriak sambil mengoceh.
“Itu, tuh. Itu, tuh. Muhari sudah masuk… kamu ke kanan… jaga, jaga.. jangan sampai lolos…!” teriak Miskuri dengan lantang. Dia anak yang dikenal paling kocak. Bawaannya selalu senyum dan tiba-tiba tertawa ketika ada hal-hal yang diangap lucu.
“Ha… hayo…! Hiyat……” ad yang berteriak sambil menangkap lawan.
Kami bermain semakin seru dan seru.
“Anak-anak… berhenti…” suara kiai Ma’ruf dari dalam rumah. Kami segera diam, dan berlarian satu-satu ke dalam Langgar.
“Sudah malam… tidur… takut shubuhnya tidak bangun,” lanjutnya.
Kami berebutan mengambil tempat tidur di Langgar. Kami terus tidur dengan sarung bau keringat, tanpa baju, dan kaki berdebu. Sebelum shubuh kami harus bangun, pergi ke sumur untuk mengambil wudhu’ untuk sholat shubuh bersama, serta dilanjutkan ngaji al-Qur’an.
Bangun tidur, rasa kantuk masih sangat. Kami dengan sendirinya sperti digiring ke sumur yang terletak di belakang rumah kiai. Kamu benar-benar masih sangat ngatuk sekali. Di sumur kami saling menunggu mengambil wudhu’ dan bergantian menimba air dari sumur. Kulihat banyak teman-teman santri yang masih tidur di kawasan sumur dengan posisi duduk, menyandarkan tubuhnya pada pepohonan yang ada di sekitar sumur. Kawasan di pinggir sumur itu sangat bersih dan halus, karena setiap hari di tempati anak-anak santri duduk. Ada pula yang tidur biasa dengan berselimutkan sarungnya. Untungnya, di antara kami saling membangunkan yang tidur setelah selesai mengambil wudhu’, begitu juga seterusnya. Terserah yang membangunkan siapa yang akan dibangunkan terlebih dahulu. Kiai Ma’ruf sendiri tidak pernah tahu bahwa santri-santrinya banyak terkapar dengan kantuknya di kawasan pinggir sumur.
“Sudah. Biarkan Atmari tidur. Biarkan. Jangan berisik, ya… awas kalian kalau sampai bangun,” beri tahu Musdor kepada yang lain. Dia anak yang kami kenal brutal, suka ngamuk, mukul teman, dan suka bertengkar. Dengan tubuhnya yang besar dan kekar, Musdor banyak ditakuti oleh teman-temanku, termasuk diriku sendiri. ah, ditinggallah Atmari sendirian tertidur pulas di dekat pohon pisang dengan posisi tidur miring. Sarung yang dia pakai dijadikan selimut tubuhnya dari angin tertiup dingin.
Kasihan, dia pasti kebingungan dan takut saat matahari membangunkannya. Atmari memang ketika sudah tidur sulit bangunnya, sulit untuk bangun sendiri. Tidak hanya Atmari, kadang teman-teman santri yang lain ketika ketiduran di kawasan pinggir sumur seringkali kebablasan bila teman-teman yang lain tidak membangunkannya. Bangun saat matahari sudah terbit, dan dengan kaget dia lari pulang, lain lagi besok ketika dia kembali ke langgar, dia akan menghadap kiai untuk disidang dan yang pasti akan mendapatkan hukuman dari kiai seperti biasanya.

# # #

Aktifitasku di Langgar sebagai kabuleh kiai lebih banyak waktu malam, karena siang aku mesti berangkat ke sekolah dan ke madrasah. Aku sering disuruh-suruh pada waktu malam itu, baik ketika menjelang ngaji dan atau selesai ngaji.
“Sufyan?” panggil lora Saipullah, putra kiai Ma’ruf yang paling muda. Usianya masih sama denganku. Putra-putri kiai aku perlakukan sama, bagaimana pun putra-putrinya, kepunyaannya harus dihormati dan ditaati.
“Iya, ra..!” sahutku.
“Kamu sekarang beli rujak ke bi’ Mathari.”
“Takut, ra…!”
“Ngajak teman.”
“Iya.”
Dia menjulurkan uang Rp. 1.000 buat beli rujak. Aku ngajak Musdor berangkat ke rumah bi’ Mathari. Aku merasa lebih tenang berjalan malam-malam dengan dia, dia orangnya tidak takutan dengan apa pun, baik hantu sekali pun.
“Bi’… Beli rujaknya, bi’..?” kataku saat memanggil bi’ Mathari di dalam rumahnya, mungkin dia sudah tidur. Aku ketuk pintu.
“Iya…” sahutnya. Dia salah satu penjual rujak yang buka duapuluh empat jam, meski orangnya sudah tidur, tapi masih bisa dibangunkan, dan siap melayani.
“Disuruh Ra Saipul beli rujaknya satu…” lanjutku menyambung.
Lekas, bi’ Mathari keluar, dan mengambil duduk di teras rumahnya di mana peralatan rujaknya juga ditaruh di tempat itu.
“Beli berapa, cong?” tanyanya sambil membuka cobik.
“Satu saja, bi’.”
“Cabi berapa?”
“Satu.”
Bi’ Mathari mulai meracik.
Aku duduk melihat bi’ Mathari membuat rujak, pengin sekali makan rujak. Tapi apalah, aku tak punya uang. Musdor mondar-mandir di halaman rumah bi’ Mathari.
“Ini, cong.” Bi’ selesai membikin rujak pesananku. Cepat sekali.
“Mari, Bi’…!” kataku
Assalamualaikum…” kemudian. “Ayo, Dor,” ajakku.
Kami menuju pulang.
Di jalan, Musdor berbisik ke telingaku.
“Suf, ambil satu, makan,” ucapnya membujuk. “Tidak apa-apa, tidak mungkin ketahuan kalau cuma satu potong lontong. Ayolah…?”
“Ya sudah, ini.”
“Yah, kamu ngambil juga satu. Tidak apa-apa kalau Cuma hilang dua,” bujuknya lagi. Aku terpaksa mengambilnya. Ah, benar-benar enak, rasanya perut lapar sekali.
“Enak, kan?” kata Musdor. “Kita ini capek.”
“Iya.”
“Haha…” kami tertawa di jalan-jalan.
Sesampainya di Langgar, aku tidak langsung mengikuti pegajian kiai Ma’ruf, aku masih disuruh buatkan kopi buat tamu yang sedang nunggu kiai selesai ngajar. Setelah itu aku mesti mengecek ternak itik kiai di belakang langgar setelah selesai cuci perabot-perabot yang kotor di dapur.
Wajar, ngabuleh di dalem kiai atau di rumah kiai itu memang tidak jauh beda dengan pembantu. Bedanya, kalau pembantu itu dibayar, tapi kalau kabuleh itu tidak dibayar, alias murni untuk mengabdi dengan tujuan mendapatkan barokah kiai dan pahala dari Allah.
Santri meski pun tidak ikut ngaji, tapi dia dibutuhkan kiai atau nyai-nya, itu sama halnya dengan yang ikut ngaji, dan bisa jadi akan melebihi dengan santri yang ikut ngaji. Dengan ketaatan, kepatuhan, ikhlas dengan apa yang disuruh kiai atau nyai, maka dengan sendirinya ilmu akan datang, dia diyakini sebagai orang yang akan mendapatkan barokah dan ilmu-ilmu yang tak disangka-sangka, kemanfaatan ilmu yang dia dapat dengan luar biasa nilainya di mata masyarakat kelak ketika terjun di tengah-tengah masyarakat.
Aku sendiri merasa sangat senang sekali bila tidak ikut ngaji, aku lebih baik disuruh apa saja oleh kiai, nyai, atau lora dari pada ngaji di langgar. Aku jadi hobby bekerja kemudian dari pada ngaji. aku juga seringkali disuruh membacak tanah sawah kiai, bantu-bantu orang menanam cabi kiai, kadang juga menanam jagung, dan pekerjaan rutin saya setiap hari yang tidak bisa ditinggalkan itu adalah mencari pakan kambing kiai setiap pagi.
Pikirku, jadi kiai itu memang enak dan menyenangkan, dia hanya bermodalkan ilmu, mengajari anak-anak baca tulis al-Qur’an, mengajari ilmu agama tata cara beribadah. Kehidupannya dijamin. Dia banyak dihormati dan ditakuti. Mau melakukan apa saja tinggal menyuruh orang atau santrinya sendiri, tanpa ongkos, hanya bermodalkan keihklasan dan atas nama guru tolang. Aku sempat berpikiran, “kenapa aku tidak punya orang tua kiai, ya..? Coba seandainya ibu dan ayah saya keturunan kiai, aku pasti jadi kiai. Aku pasti jadi lora. Aku bisa berbuat apa saja sama orang-orang. Dan aku dihormati.” Aku sangat iri, karena setiap kali ada undangan, undangan apa saja; maulid nabi, tahlil, selamatan, acara pengantin, dll. kiai mesti diperlakukan berbeda oleh tuan rumah alias yang mengundang. Sementara orang-orang seperti aku, orang biasa, hanya sekedar-sekedarnya saja, seperti tak begitu diharapkan, sebatas sebagai pelengkap saja di acara undangan itu. Tempat dan hidangannya pun juga berbeda; alas yang ditempatinya bersih dan suci, ada banyak makanan yang enak-enak dan buah-buahan segar di deretan depan para kiai yang datang. Beda dengan orang biasa sepertiku, ditempatkan di luar atau halaman, kadang di teras rumah, kadang juga diletakkan dibelakang barisan undangan para kiai bila undangannya sedikit, dan alas yang ditempatinya biasa-biasa saja, yang penting ada meski kurang bagus dan bersih, makanan juga seadanya, yang penting makan.
Ah, jadi orang sepertiku ini memang harus serba tunduk dan patuh, kadang aku juga berpikir bagaimana orang sepertiku ini juga diperlakukan seperti halnya orang memperlakukan kiai, nyai, atau lora-nya. Atau sebaliknya, kiai, nyai, dan lora-nya juga memperlakukan kami sebagaimana kami memperlakukan mereka. Mungkinkah itu? Ketika orang sepertiku meminta mereka untuk menyangkul ladangku atau mencarikan pakan ternaku. Tidak. Aku masih merasa bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda. Entahlah, aku belum tahu banyak tentang rencana Tuhan, apalagi agama yang aku anut ini dengan tanpa sengaja.
Tapi, aku masih ingat betul waktu guruku di Madrasah mengatakan bahwa Allah-lah Maha pencipta yang mengetahui segala apa yang dilakukan oleh makhluk-Nya, yang tersembunyi mau pun yang tampak terlihat oleh manusia. Allah tidak memandang siapa dan bagaimana manusia itu, baik pangkatnya, atau pun tidak berpangkat, tapi Allah melihat dan menilai sejauh mana amal dan nilai ketaqwaan seorang hamba kepada Allah. Hati seorang hamba itulah yang menjadi patokan Allah dalam menilai derajat seorang hamba tersebut.

# # #

Saat ini kiai Ma’ruf memberikan peraturan baru kepada semua santri, baik putra mau pun putri. Aturannya adalah, semua santri harus membawa satu botol minyak tanah untuk minyak sturking yang tiap malam dipakai untuk ngaji. kiai Ma’ruf mulai mengatur dan membagi nama-nama santri yang harus membawa satu botol minyak tanah setiap kali berangkat ngaji. satu santri hanya mendapatkan bagian satu kali bawa minyak tanah ke langgar, dan berputar kembali ke awal setelah semuanya selesai mendapatkan bagian.
Padahal, pada awalnya tidak, tidak ada peraturan seperti itu. Entahlah, kenapa kiai Ma’ruf memberikan itu kepada semua santri. Barangkali kiai Ma’ruf merasa tak mampu kalau setiap hari mesti membelikan minyak tanah sturking di langgar, lain lagi di lampu-lampu minyak di rumahnya. Sudah sepantasnya santri yang menanggung itu, sudah cukup kiai sebagai guru ngaji dan guru agama. Sudah cukup berjasa kepada masyarakat dalam mendidik anak-anaknya. Sebagai seorang kiai, dia tidak dibayar, santri yang belajar ngaji tidak dipungut biaya apa pun, tempat sudah geratis, lampu sebelumnya juga geratis dinikmati. Hanya satu kali putaran dari jumlah santri yang ada diwajibkan membawa satu botol minyak tanah, tidak satu orang harus setiap hari membawakan minyak tanah.
Ah, di malam tanggal tua, malam gelap kawan. Lampu-lampu minyak di langgar dan sekitarnya sudah dipadamkan alias mati. Sementara kiai dan keluarganya sudah lelap di rumahnya. Di malam yang gelap ini, aku dengan teman-teman santri bermain petak umpet. Permainan uji nyali, siapa yang takut sama hantu, maka di sinilah ujiannya. Malam gelap seperti ini cukup membuat kami merinding sekaligus senang bagi yang ngumpet atau pun yang bertugas mencari.
Dalam permainan ini, siapa pun boleh ikut. Kami bermain sebanyak sepuluh orang. Sebelum memulai bermain, terlebih dahulu kami melakukan hompimpa sampai habis dan tinggal dua orang saja. Tinggal Atmari dan Musdor, mereka berdua terus melakukan hompimpa. Dua orang ini yang nantinya akan menentukan mana yang akan bersembunyi dan mana yang akan menjadi pencari.
“Sembunyi,” kata Atmari. Musdor menjadi pencari. Kami menyebar di beberapa tempat.
Ah, aku takut, aku ngumpet dekat Mat Suhar di tempat yang cukup aman dari pencarian Musdor.
“Satu… dua… tiga… sudah…?” tanya Musdor dengan mata tertutup baju. Dia berdiri di balik gedung Langgar sebelah kanan dekat dapur kiai. “Empat… lima… saya hitung sampai sepuluh. Enam… tujuh… delapan… sembilan… sudah..?”
“Belum…!” suhut Atmari sambil berusaha lari kencang dengan tubuhnya yang gemuk dan perutnya yang gendut.
“Sudah, belum..?” tanyanya lagi.
“Sepuluh…” Musdor mulai membuka tutup matanya.
“Suit…” saut Atmari. Dia sepertinya sudah berada di posisi yang aman. Seketika itu pula aku langsung menyambung, “uy…”, sebelum Musdor selesai membuka tutup matanya.
Musdor mulai mencari, berjalan dengan gagahnya. Celengak-celengok ke kanan dan ke kiri. Mat Suhar mulai mendekati benteng, tempat Musdor tadi menutup mata, aku mengikuti dari belakangnya. Musdor aku lihat ke arah belakang Langgar, lalu dengan segera kembali ke tengah. Dia mencoba berjalan dan melongohkan matanya ke arah kiri langgar, terus melangkah.
“Yat… kembali… hu…!” teriak Mat Suhar. Dia berhasil dan lebih dulu memegang benteng si pencari, Musdor. Permainan selesai.
Kami mengulang permainan kembali dengan memilih orang yang akan jadi pencari. Mat Suhar sekarang yang punya hak menentukan siapa orang yang akan jadi pencari. Teman-teman berkumpul dan berbaris di benteng di belakang Mat Suhar. Mat Suhar mulai menyebutkan angka urutan baris anggota di belakangnya tanpa dia tahu nama-nama yang menduduki angka yang disebutkan.
Kami terus bermain sampai larut. Senang teramat senang, yang awalnya takut, akhirnya menjadi biasa dan tidak takut. Benar-benar senang. Untungnya, kiai Ma’ruf tidak bangun, kami bisa bermain dengan bebas, sampai kami benar-benar lelah, lalu terlelap dengan tubuh basah dengan keringat.
Malam yang menyenangkan, tapi sayang, adzan subuh kami tidak bangun, lelap sekali. Sampai-sampai yang adzan shubuh itu kiai Ma’ruf sendiri, bukan lagi di antara kami, yang biasanya adzan itu adalah santri sendiri yang bertugas. Kami benar-benar sial dan takut, kiai Ma’ruf menyuram kami yang lelap satu-satu dengan air. Dengan kaget, kami bangun. Ada yang langsung berlari ke sumur, ada yang masih bengung, ada yang masih membantah marah-marah dikira bukan kiai, pokoknya macam-macam.
“Bangun, bangun, bangun,” kata kiai Ma’ruf sambil menyiramkan air ke wajah santri. “Dikira saya tidak tahu. Bangun…! Makanya kalau main itu jangan sampai terlalu malam. Ayo, bangun..!”
“Siapa ini? Mau cari masalah dengan saya? Ayo kalau mau tengkar. Ayo kita ke halaman,” kata Musdor. Kiai Ma’ruf diam saja.
“Ada apa, Dor? Kamu mau apa…? Sana, sana, ke sumur. Cepat?” kata kiai Ma’ruf kemudian.
Enggi…” saut Musdor langsung kendor, tahu bahwa dia adalah kiai.
“Disuruh tidur malah main, anak sekarang memang susah diatur.”[ ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar